"Belajar untuk kehidupan yang lebih baik"
Diberdayakan oleh Blogger.
RSS

CARA CEK INFO GTK


Pencairan sertifikasi triwulan I khusus untuk guru tingkat SMA telah menggunakan data base dari Dapodikmen. Batas waktu perbaikan data guru pada aplikasi dapodik sampai dengan bulan Juni 2016.
Guru dapat mengecek data individual pada laman berikut Cek data GTK
untuk login menggunakan NUPTK dan tanggal lahir.
Jika terdapat data yang tidak sesuai, guru dapat melaporkan pada operator dapodik di sekolah masing-masing.

JUKNIS TUNJANGAN PROFESI 2015


Wadduh.... lagi malas buat pengantarnya...
intinya NIH...yang ingin mengetahui juknis tunjangan profesi guru tahun 2015
melalui transfer daerah klik saja di sini. JUKNIS TUNJANGAN PROFESI 2015

PENGUMUMAN SNMPTN 2015


Pengumuman hasil seleksi SNMPTN 2015 dapat diakses pada tanggal 9 Mei 2015, mulai pukul 17.00 WIB atau pukul 18.00 WITA. Bagi anda yang lulus dapat melakukan pendaftaran ulang pada tanggal 9 Juni 2015 bertempat di Perguruan Tinggi yang dilulusi. Waktu pendaftaran ulang SNMPTN 2015 bersamaan dengan waktu pelaksanaan Ujian Seleksi SBMPTN 2015.

Anda yang tidak lulus segera melakukan pendaftaran SBMPTN 2015 (Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri 2015) waktu pendaftaran mulai 11 Mei-29 Mei 2015.
Untuk Siswa SMA Negeri 10 Bulukumba atau dari sekolah mana saja yang kurang pahan dengan SBMPTN dan cara pendaftarannya hubungi di Lab. Biologi SMA 10 Bulukumba atau Via BBM 52BCA4F6, WA 081355449948 (konsultasi via SMS tidak dilayani) atau di  Group facebook SMA Neg.10 Bulukumba.

Pengumuman dan detail yang harus anda lakukan bagi yang lulus SNMPTN 2015 klik disini --->> Pengumuman SNMPTN 2015

Daftar siswa lulus SNMPTN 2015 SMA Neg. 10 Bulukumba :
Selamat bagi anda yang lulus...!!!

















TAHAPAN PENDAFTARAN SNMPTN 2015


Pendaftaran SNMPTN 2015 dimulai 13 Pebruari 2015. Untuk meminimalisasi kesalahan dalam proses pendaftaran yang berakibat pada kegagalan atau permasalahan setelah lulus di perguruan tinggi, maka pengelola BIDIKMISI dan SNMPTN 2015 SMA Negeri 10 Bulukumba menetapkan tahapan pendaftaran sebagai berikut :


Peserta bidikmisi:
  1. Mengisi format rekomendasi, ditandatangani guru yang memberi rekomendasi dan Kepala sekolah.
  2. Memperoleh Nomor Pendaftaran dan Kode Akses Bidikmisi
  3. Mengisi formulir bidikmisi
  4. Menyiapkan file foto dan hasil scan (lihat pada formulir)
  5. Melakukan pendaftaran bidikmisi.
  6. Memperoleh kartu peserta/anggota bidikmisi
  7. Melakukan pendaftaran SNMPTN
Pendaftaran SNMPTN
  1. Pengimputan nilai (selesai)
  2. Verifikasi nilai oleh pihak sekolah dan siswa (pada saat verifikasi siswa diwajibkan menunjukkan rapor asli), jika terdapat nilai tidak sesuai rapor wajib lapor untuk perubahan.
  3. Verifikasi program studi oleh pihak sekolah (Konsultasi prodi pilihan oleh GURU, BK dan Kepala Sekolah)
  4. Pendaftaran SNMPTN
  5. Pencetakan kartu SNMPTN
  6. Menanti Pengumuman.
SELESAI...

KELAS KHUSUS (Kelas Unggulan)


Selain penerapan kurikulum 2013, penyelenggaraan kelas unggulan/kelas khusus kini sepertinya akan menjadi trend issue bidang pendidikan. Terdengar beberapa sekolah setingkat SMP telah menerapkannya, dan sekolah SMA tempat kami bertugas juga telah mempersiapkan hal serupa. Seperti yang saya dengar, penyelenggaraan kelas unggulan ini dibarengi dengan penggunaan IT dalam proses pembelajaran, artinya dalam kelas unggulan siswa dan guru diharapkan menggunakan komputer dalam proses pembelajaran, suatu hal yang mungkin sedikit prestisius walau tidaklah berlebihan.
Dasar hukum pelaksanaannya secara pribadi saya belum mengetahui walau demikian hal ini bisa saja menjadi kebijakan internal sekolah sebagai bentuk terjemahan dari manajemen berbasis sekolah (MBS). Pro dan kontra mungkin akan mewarnai perjalanannya. Sekolah unggulan atau kelas unggulan diyakini akan memiliki dampak terhadap peserta didiknya. Sebagai bahan pertimbangan tentang kelas unggulan tersebut, maka beberapa pendapat ahli berikut ini dapat menjadi referensi sebelum kita memutuskan untuk menyelenggarakan kelas tersebut.

1. Prof. Suyanto

Pengelompokan siswa secara homongen berdasarkan kemampuan akademik menjadi superbaik, amak baik, sedang, kurang, sampai kelas "gombal", tidak memiliki dasar filosofi yang benar.
Stigmatisasi pada siswa di kelas "gombal", mereka akan kehilangan kepercayaan diri, siswa yang masuk dalam kategori kelas superbaik memiliki kecenderungan arogan, elitis, dan ekslusif. Di kelas superbaik guru guru bisa tampil penuh gairah karena fenomena positive hallow effect terhadap anak-anak berotak brilian, namun sebaliknya guru di kelas "gombal" akan cenderung bermasa bodoh akibat fenomena negatif hallow effect terhadap siswa berotak pas-pasan. Lebih lanjut Prof. Suyanto berpendapat bahwa kelas unggulan menjadi proses dehumanisasi secara sistemik di sekolah, karena tidak mencerminkan kehidupan masyarakat yang bercorak heterogen.

2. Prof. Liek Wilarjo

Anak-anak berbakat dan berotak cemerlang perlu mendapat perhatian khusus agar mereka dapat menumbuhkembangkan talenta dan kecerdasannya. Jika anak berbakat dijadikan satu dengan anak yang lambang mereka akan kehilangan semangat belajar karena jenuh dengan proses belajar yang lambang. Anak-anak yang pandai akan mengalami kerepotan jika dibiarkan bersaing dengan siswa-siswa pintar. Kelas heterogen justru akan mempersubur mediokritas, dimana anak-anak cemerlang tidak bisa mengembangkan talenta dan kecerdasannya, mengalami stagnasi dan "pemandulan" intelektual. sementara anak-anak yang lambat akan jalan ditempat.
Kekhawatiran bahwa siswa yang masuk dalam kelas "gombal" akan dihinggapi rasa minder dinggap terlalu berlebihan, karena baru berdasarkan asumsi yang belum di uji kebenarannya. Pengelompokan siswa lambang dalam kelas "gombal" justru diyakini dapat memudahkan penanganan secara khusus.

3. Prof. Conny R Semiawan

Perlu pengembangan kurikulum berdiferensiasi, dimana peserta didik yang berkemampuan unggul perlu mendapat perhatian khusus. Kurikulum berdiferensiasi dapat mewujudkan seseorang sesuai dengan kemampuan yang ada padanya, dapat menghadapi masalah dan kompleksitas kehidupan yang berubah akibat peningkatan teknologi dan perubahan nilai-nilai sosio-kultural.

4. Susan Albers Mohrman et.al. (school based management, San Fransisco)

Sebutan untuk sekolah unggulan/kelas unggulan itu sendiri kurang tepat, karena "unggul" menyiratkan adanya superior dibandingkan dengan lainnya. Kata unggul (excelent) menunjukkan adanya "kesombongan" intelektual yang sengaja ditanamkan di sekolah. Di Negara maju untuk menunjukkan sekolah/kelas baik tidak menggunakan kata unggul (excelent) melainkan effetive, develop, accelerate dan essential.

Seperti apapun niat serta dasar pemikiran kita untuk penyelenggaraan kelas unggulan ini, kita berharap ini tidak menjadi malpraktik yang akan merugikan pendidikan itu sendiri. semangat.

Terima kasih.